Thursday, March 22, 2012

Sapi Aceh Produk Unggulan Nasional

Pemerintah menetapkan sapi aceh sebagai produk unggulan sapi nasional sekaligus menetapkan ternak itu dengan nama sapi aceh. Penetapan itu didasarkan tes hasil uji DNA yang dilakukan oleh tim ahli dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Demikian disampaikan Murtadha Sulaiman, Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Jumat (10/6/2011). 

“Jika selama ini di Indonesia sudah ada produk unggulan sapi, seperti sapi bali, sapi madura, kini pemerintah sudah meresmikan bahwa sapi aceh akan menjadi plasma nutfah secara nasional,” kata Murtadha. Sapi aceh yang memiliki karakteristik spesifik bakal menjadi salah satu ternak unggulan nasional untuk dikembangkan secara luas.

Dia menyatakan, sapi aceh memiliki berbagai keunggulan, seperti tahan terhadap serangan penyakit, rasa daging yang khas dan enak, serta populasinya mencukupi. Pemerintah daerah pun menjamin untuk melestarikan sapi. Mohd Agus Nashri Abdullah, dosen Fakultas Pertanian Unsyiah, menyebutkan, sapi lokal Aceh memiliki beberapa keunggulan, seperti ketahanan terhadap penyakit, mampu beradaptasi dengan iklim ekstrem dan wilayah marjinal, dapat mengonsumsi sampah organik, kemampuan berproduksi yang baik, dan rasa daging yang khas dan enak.

Sunday, March 18, 2012

Arab Saudi Tertarik Investasi di Sektor Peternakan Indonesia

Arab Saudi menyatakan ketertarikannya berinvestasi di Indonesia. Negara Timur Tengah ini disebut akan menanamkan sejumlah dana di sektor peternakan Indonesia. Salah satu yang sudah menarik minat investor Arab Saudi adalah berinvestasi untuk pembibitan sapi dalam negeri.

Hal ini dikatakan Direktur Jenderal Peternakan Kementrian Pertanian Syukur Iwantoro. Ia melanjutkan, Arab Saudi bahkan telah mengirimkan delegasi untuk meninjau peternakan di Indonesia.

“Kayu Agung Sumatera Selatan menjadi pilihan,” katanya saat ditemui wartawan usai raker dengan komisi IV DPR RI, Rabu (7/3).

Ia mengatakan, kehalanan sapi asal Indonesia menjadi penyebab ketertarikan Arab Saudi untuk berinvestasi di Indonesia. Tidak hanya sapi, Arab Saudi juga tengah menjajaki pengembangan peternakan kerbau, kambing dan domba.

Irwantoro sendiri masih belum mau menyebut berapa nilai investasi yang akan dikeluarkan negara kerajaan ini. Namun yang pasti, kata Iwantoro, investasi ini akan menciptakan lapangan kerja baru bagi sebagian masyarakat di tanah air.

“Nantinya dari pembibitan itu, kita akan kembali mengekspor sapi yang sudah digemukan dan dipotong ke Arab Saudi,” jelasnya. Ia menuturkan ini akan memberi tambahan devisa bagi negara ini.

Terkait dengan investor Australia yang kemungkinan bakal berinvestasi di sektor serupa, Sykur mengaku hingga kini belum ada kelanjutan. Menurutnya Australia belum secara spesifik menghubungi pihaknya untuk pembicaraan lebih lanjut.(sumber: Republika.7 Maret 2012)

Kendala Pembangunan Peternakan Aceh

PEMBANGUNAN sektor peternakan di Aceh hingga kini masih mengalami banyak kendala. Akibatnya, masyarakat di provinsi berjuluk ‘Serambi Mekkah’ masih mengalami ketergantungan pasokan dari luar daerah, khususnya dari Sumatera Utara (Sumut) untuk memenuhi sejumlah komoditi kebutuhan pokok mereka terutama daging dan protein hewani lainnya. Kendala yang dirasakan cukup mengganggu pengembangan sektor peternakan ini ialah terjadinya pengurasan bibit ternak terutama sapi sehingga terbatasnya sumber bibit. Selain itu juga belum ada usaha produksi bibit unggas (ayam ras) dan belum adanya pabrik pakan ternak.

Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswannak) Aceh, Ir Murthada Sulaiman, saat menghadiri rapat koordinasi (Rakor) Perencanaan Pembangunan Peternakan se-Aceh 2012, hasil kerja sama Dinkeswannak Aceh dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Aceh Timur pekan lalu di Langsa mengatakan, kendala lain yang sangat mengganggu pengembangan sektor peternakan ialah masih dijumpainya flu burung sebagai ancaman utama dalam budidaya unggas di Aceh.

Kendala berikutnya, besarnya potensi sumber daya alam (SDA) yang belum dimanfaatkan maksimal.

Karenanya, tegasnya, pembibitan merupakan bagian penting dari pembangunan peternakan secara menyeluruh terutama dalam meminimalisir pengurasan bibit ternak sapi dan lainnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota akan mengembangkan sentra-sentra pembibitan ternak di masyarakat melalui pembibitan ternak rakyat yang merupakan andalan meningkatkan kemampuan penyediaan bibit ternak di pedesaan dengan pengembangan program inseminasi buatan atau kawin suntik.

Murthada Sulaiman melanjutkan, pembangunan peternakan merupakan bentuk fasilitas dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat serta upaya meningkatkan keberhasilan pembangunan peternakan. Karenanya, proses perencanaan harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan aspirasi pelaku agribisnis peternakan dan perkembangan yang ada.

Salah satu upaya perkembangan usaha peternakan ini dapat dilakukan melalui peningkatan populasi dan produktifitas ternak.

Sementara itu, keberhasilan dan manfaat suatu program tidak hanya dinilai dari terlaksananya program, tetapi kinerja program secara keseluruhan, termasuk kinerja anggaran.

Dengan kata lain, suatu program dikatakan berhasil, efektif dan efisien bila program yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan pembangunan berpengaruh besar terhadap perbaikan perekonomian masyarakat.

Karenanya, untuk kesuksesan program itu, prinsip reformasi perencanaan harus bisa diterapkan, yakni tepat, akuntabel dan transparan. Tepat artinya, setiap kegiatan yang dilakukan memiliki kinerja terukur dan runtut mulai dari indikator, program dan kegiatan yang dilakukan secara realistis berdasarkan ketersediaan anggaran dan sumber daya manusia (SDM).

Akuntabel dimaksudkan harus berdasarkan penjelasan dari sasaran yang akan dicapai dan pertanggungjawabannya. Sedangkan transparan ialah kegiatan itu dapat diikuti dan dicermati masyarakat.

Dia melanjutkan, SDM pertanian dan peternakan merupakan penggerak utama membangun perekonomian dan kesejahteraan bangsa. Di masa kini dan mendatang diperlukan petani dan peternak andal, yaitu yang mampu melihat, menilai peluang bisnis dan mampu mengoptimalkan sumber daya dan mengambil tindakan tepat untuk meningkatkan pendapatan dari usaha agribisnisnya.

Secara operasional, agribisnis tiada lain adalah pengembangan komoditas pertanian atau peternakan yang berorientasi pasar yang dilakukan secara efisien dan efektif yang dalam skala ekonomi dilengkapi pengembangan penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang sesuai kemampuan dan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan.

Pada gilirannya, berkembangnya agribisnis akan berdampak terhadap pengembangan industri kecil dan jasa.

Tiru Aceh Timur

Program agribisnis ayam petelur di Aceh Timur bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lainnya di Aceh.

Sampai kini, kabupaten ini telah mampu menghasilkan 55 ribu butir telur ayam per hari. Meskipun, dengan jumlah produksi itu Aceh Timur belum mampu menutupi kebutuhan telur masyarakatnya, sebut Murthada Sulaiman yang didampingi Sekda Aceh Timur Syaifannur SH MM dan Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Timur, Usman A Rachman .

Program agribisnis ayam petelur di Aceh Timur merupakan salah satu program unggulan daerah ini yang berdampak positif bagi perkembangan perunggasan khususnya ayam petelur.

Program ini telah memotivasi masyarakat untuk membuka usaha serupa secara pribadi dan berkelompok. Jadi, Aceh Timur dinilainya sudah layak dinobatkan sebagai sentra pengembangan agribisnis ayam petelur untuk Aceh.

Melalui program ini, terbukanya lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan dan sebagai inovasi baru yang dapat meningkatkan kapasitas SDM peternakan di masa mendatang.

Kadis Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Timur, Usman A Rachman, kepada Analisa mengatakan, saat ini ada lima kecamatan yang merupakan kawasan pemberdayaan ayam petelur. Kelima kecamatan itu adalah Birem Bayeun dengan satu lokasi, Peureulak Kota (1), Peureulak Barat (2) dan Pante Bidari (1).

Dia mengakhiri dengan mengatakan, peternakan ayam milik Pemkab Aceh Timur kini telah menghasilkan 84 persen produksi telur, yaitu 50-55 ribu telur/hari.(sumber : harian analisa, 20 Desember 2011)

Aceh Defisit Telur dan Ternak

Provinsi Aceh saat ini mengalami defisit telur ayam sebesar 18,9 juta kg/tahun atau setara 302,4 juta butir dengan nilai total Rp 272,16 miliar. Di samping itu, Aceh juga kekurangan bibit ternak. Salah satu penyebab defisit ini ialah kurang berkembangnya agribisnis dan pembibitan ternak di masyarakat. Guna mengatasi defisit telur dan ternak ini, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, termasuk Aceh Timur, secara bertahap mengembangkan peternakan ayam ras petelur.

Demikian ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Ir Murthada Sulaiman, saat membuka Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Tingkat Aceh 2011 yang dihadiiri seluruh pejabat terkait kabupaten/kota se-Aceh di Langsa, Juma (9/12).

Murthada Sulaiman melanjutkan, untuk menanggulangi persoalan ini, perlu dilakukan upaya peningkatan kegiatan pengembangan agribisnis dan pembibitan ternak. Karenanya, kepada unsur perencana pembangunan peternakan agar memanfaatkan potensi yang ada dan diwujudkan dalam pelaksanaannya.

Menyangkut rakor, dia menyatakan, bertujuan menyinergikan rencana pembangunan peternakan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Aceh sehingga anggaran yang dialokasikan dapat digunakan maksimal, terukur, dan manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah diwakili Sekda, Syaifannur SH MM, mengatakan, Aceh Timur sebagai salah satu lumbung ternak, berperan penting meningkatkan pembangunan peternakan sebagai upaya membantu mempercepat program swasembada daging pada 2014 serta mencukupi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat daerah ini dan Aceh umumnya.(sumber: harian analisa, 13 Desember 2011)

Aceh Timur Kembangkan Ayam Petelur

Pemerintah Kabupaten Aceh Timur saat ini tengah fokus mengembangkan ayam petelur. Pusat pemeliharaan ditetapkan di lima titik, yaitu di Kecamatan Darul Ihsan, Pante Bidari, Peureulak Barat, Peureulak Kota, dan Birem Bayeun.

Pengembangan ayam petelur ini dimaksudkan untuk meminimalkan ketergantungan Aceh dengan daerah luar. Selasa kemarin, tim terpadu turun ke sejumlah titik untuk meninjau langsung program pengembangan ayam petelur tersebut. Termasuk menampung aspirasi masyarakat sekitar mengenai dampak lingkungan yang yang ditimbulkan baik limbah maupun lalat.

Kepala Dinas Peternakan Aceh Timur Usman A Rachman, menjelaskan, pembangunan pusat pengembangan ayam petelur ini dibangun dengan mengunakan dana APBA tahun 2009 dan tambahan dana sharing dari Otsus dan APBK Aceh Timur. “Jika tahap awal ini berhasil, maka Aceh Timur merupakan daerah pertama di Aceh yang menghasilkan telur sendiri,” ungkapnya.

Menurut dia, lokasi peternakan tersebut dikelola dengan melibatkan kelompok masyarakat di bawah pengawasan dinas. Untuk di lokasi peternakan Aramiah kini terdapat 10 ribu ekor, tapi belum memasuki masa produksi. Sedangkan di Alue Bu ada dua lokasi dengan jumlah populasi 30 ribu ekor ayam. Produksi telur baru dihasilkan di Pante Bidari yang memiliki populasi 10 ribu ekor ayam. Per hari, telur yang dihasilkan mencapai 8.400 butir yang dipasarkan sampai ke Lhoksukon, Aceh Utara.

Mr Lee, dari GM Gokoin Malaysia didampingi Ahan pengusaha ayam asal Medan dan drh Bambang staf ahli kesehatan ayam, menyebutkan, kandang peternakan ayam di Aceh Timur lebih baik dibandingkan dengan di Medan. Namun pengelolaan manajemen di tingkat kandang harus dtingkatkan lagi. Ia mengaku masih memaklumi berbagai kekurangan yang terdapat di Aceh Timur, apalagi pengembangan ayam ini masih baru. “Jika ada keinginan untuk memperbaiki, kedepan pasti akan bagus termasuk pengelolaan limbah yang lebih utama. Kotoran ayam bila bisa dijadikan pupuk lebih bagus, dan saluran yang ada harus benar-benar diperhatikan agar airnya mengalir,” kata Mr Lee.

Menyangkut hal itu, Kadis Peternakan Aceh Timur Usman mengaku akan memperbaiki tata kelola di tingkat kandang agar lebih ramah lingkungan untuk meminalisir dampak lingkungan. Bahkah dalam waktu dekat ini, pihaknya bekerja sama dengan Mr Lee dan Ahan akan menggelar seminar tentang hal tersebut.

“Ini akan menjadi pilot project yang memuaskan bagi masyarakat yang mengelola dan menghasilkan PAD bagi daerah ini,” terang Usman. Menurut Sekdakab Aceh Timur, Syaifannur SH MM, pembangunan dan pengembangan ayam petelur merupakan program Bupati Muslim Hasballah dari sektor peternakan. “Ini salah satu prioritas kita, ini kan masih sebagai pilot project, usaha ini memang visieble untuk dilaksanakan. Diharapkan  bisa juga mendorong masyarakat untuk terus berbuat yang sama dalam sektor ini,” harapnya.(sumber serambi indonesia, 22 April 2010)

Selamat Datang Peternak!


Alhamdulillah.. hari ini Senin, 19 Maret 2012 pukul 09.43 wib pagi. telah terlahir sebuah blog yang bernama eternak.blogspot.com.
Blog ini kan mengkhususkan berita berita seputar peternakan dan pertanian, sebagai masukan bagi dunia industri peternakan di Indonesia.
Maju terus Peternakan!!!