Sunday, March 18, 2012

Kendala Pembangunan Peternakan Aceh

PEMBANGUNAN sektor peternakan di Aceh hingga kini masih mengalami banyak kendala. Akibatnya, masyarakat di provinsi berjuluk ‘Serambi Mekkah’ masih mengalami ketergantungan pasokan dari luar daerah, khususnya dari Sumatera Utara (Sumut) untuk memenuhi sejumlah komoditi kebutuhan pokok mereka terutama daging dan protein hewani lainnya. Kendala yang dirasakan cukup mengganggu pengembangan sektor peternakan ini ialah terjadinya pengurasan bibit ternak terutama sapi sehingga terbatasnya sumber bibit. Selain itu juga belum ada usaha produksi bibit unggas (ayam ras) dan belum adanya pabrik pakan ternak.

Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswannak) Aceh, Ir Murthada Sulaiman, saat menghadiri rapat koordinasi (Rakor) Perencanaan Pembangunan Peternakan se-Aceh 2012, hasil kerja sama Dinkeswannak Aceh dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Aceh Timur pekan lalu di Langsa mengatakan, kendala lain yang sangat mengganggu pengembangan sektor peternakan ialah masih dijumpainya flu burung sebagai ancaman utama dalam budidaya unggas di Aceh.

Kendala berikutnya, besarnya potensi sumber daya alam (SDA) yang belum dimanfaatkan maksimal.

Karenanya, tegasnya, pembibitan merupakan bagian penting dari pembangunan peternakan secara menyeluruh terutama dalam meminimalisir pengurasan bibit ternak sapi dan lainnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota akan mengembangkan sentra-sentra pembibitan ternak di masyarakat melalui pembibitan ternak rakyat yang merupakan andalan meningkatkan kemampuan penyediaan bibit ternak di pedesaan dengan pengembangan program inseminasi buatan atau kawin suntik.

Murthada Sulaiman melanjutkan, pembangunan peternakan merupakan bentuk fasilitas dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat serta upaya meningkatkan keberhasilan pembangunan peternakan. Karenanya, proses perencanaan harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan aspirasi pelaku agribisnis peternakan dan perkembangan yang ada.

Salah satu upaya perkembangan usaha peternakan ini dapat dilakukan melalui peningkatan populasi dan produktifitas ternak.

Sementara itu, keberhasilan dan manfaat suatu program tidak hanya dinilai dari terlaksananya program, tetapi kinerja program secara keseluruhan, termasuk kinerja anggaran.

Dengan kata lain, suatu program dikatakan berhasil, efektif dan efisien bila program yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan pembangunan berpengaruh besar terhadap perbaikan perekonomian masyarakat.

Karenanya, untuk kesuksesan program itu, prinsip reformasi perencanaan harus bisa diterapkan, yakni tepat, akuntabel dan transparan. Tepat artinya, setiap kegiatan yang dilakukan memiliki kinerja terukur dan runtut mulai dari indikator, program dan kegiatan yang dilakukan secara realistis berdasarkan ketersediaan anggaran dan sumber daya manusia (SDM).

Akuntabel dimaksudkan harus berdasarkan penjelasan dari sasaran yang akan dicapai dan pertanggungjawabannya. Sedangkan transparan ialah kegiatan itu dapat diikuti dan dicermati masyarakat.

Dia melanjutkan, SDM pertanian dan peternakan merupakan penggerak utama membangun perekonomian dan kesejahteraan bangsa. Di masa kini dan mendatang diperlukan petani dan peternak andal, yaitu yang mampu melihat, menilai peluang bisnis dan mampu mengoptimalkan sumber daya dan mengambil tindakan tepat untuk meningkatkan pendapatan dari usaha agribisnisnya.

Secara operasional, agribisnis tiada lain adalah pengembangan komoditas pertanian atau peternakan yang berorientasi pasar yang dilakukan secara efisien dan efektif yang dalam skala ekonomi dilengkapi pengembangan penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang sesuai kemampuan dan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan.

Pada gilirannya, berkembangnya agribisnis akan berdampak terhadap pengembangan industri kecil dan jasa.

Tiru Aceh Timur

Program agribisnis ayam petelur di Aceh Timur bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lainnya di Aceh.

Sampai kini, kabupaten ini telah mampu menghasilkan 55 ribu butir telur ayam per hari. Meskipun, dengan jumlah produksi itu Aceh Timur belum mampu menutupi kebutuhan telur masyarakatnya, sebut Murthada Sulaiman yang didampingi Sekda Aceh Timur Syaifannur SH MM dan Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Timur, Usman A Rachman .

Program agribisnis ayam petelur di Aceh Timur merupakan salah satu program unggulan daerah ini yang berdampak positif bagi perkembangan perunggasan khususnya ayam petelur.

Program ini telah memotivasi masyarakat untuk membuka usaha serupa secara pribadi dan berkelompok. Jadi, Aceh Timur dinilainya sudah layak dinobatkan sebagai sentra pengembangan agribisnis ayam petelur untuk Aceh.

Melalui program ini, terbukanya lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan dan sebagai inovasi baru yang dapat meningkatkan kapasitas SDM peternakan di masa mendatang.

Kadis Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Timur, Usman A Rachman, kepada Analisa mengatakan, saat ini ada lima kecamatan yang merupakan kawasan pemberdayaan ayam petelur. Kelima kecamatan itu adalah Birem Bayeun dengan satu lokasi, Peureulak Kota (1), Peureulak Barat (2) dan Pante Bidari (1).

Dia mengakhiri dengan mengatakan, peternakan ayam milik Pemkab Aceh Timur kini telah menghasilkan 84 persen produksi telur, yaitu 50-55 ribu telur/hari.(sumber : harian analisa, 20 Desember 2011)

No comments:

Post a Comment