PEMBANGUNAN sektor peternakan di Aceh
hingga kini masih mengalami banyak kendala. Akibatnya, masyarakat di
provinsi berjuluk ‘Serambi Mekkah’ masih mengalami ketergantungan
pasokan dari luar daerah, khususnya dari Sumatera Utara (Sumut) untuk
memenuhi sejumlah komoditi kebutuhan pokok mereka terutama daging dan
protein hewani lainnya.
Kendala yang dirasakan
cukup mengganggu pengembangan sektor peternakan ini ialah terjadinya
pengurasan bibit ternak terutama sapi sehingga terbatasnya sumber bibit.
Selain itu juga belum ada usaha produksi bibit unggas (ayam ras) dan
belum adanya pabrik pakan ternak.
Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswannak) Aceh, Ir
Murthada Sulaiman, saat menghadiri rapat koordinasi (Rakor) Perencanaan
Pembangunan Peternakan se-Aceh 2012, hasil kerja sama Dinkeswannak Aceh
dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Aceh Timur pekan
lalu di Langsa mengatakan, kendala lain yang sangat mengganggu
pengembangan sektor peternakan ialah masih dijumpainya flu burung
sebagai ancaman utama dalam budidaya unggas di Aceh.
Kendala berikutnya, besarnya potensi sumber daya alam (SDA) yang belum dimanfaatkan maksimal.
Karenanya, tegasnya, pembibitan merupakan bagian penting dari
pembangunan peternakan secara menyeluruh terutama dalam meminimalisir
pengurasan bibit ternak sapi dan lainnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Aceh dan pemerintah
kabupaten/kota akan mengembangkan sentra-sentra pembibitan ternak di
masyarakat melalui pembibitan ternak rakyat yang merupakan andalan
meningkatkan kemampuan penyediaan bibit ternak di pedesaan dengan
pengembangan program inseminasi buatan atau kawin suntik.
Murthada Sulaiman melanjutkan, pembangunan peternakan merupakan bentuk
fasilitas dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan partisipasi
masyarakat serta upaya meningkatkan keberhasilan pembangunan peternakan.
Karenanya, proses perencanaan harus dilakukan secara komprehensif
dengan memperhatikan aspirasi pelaku agribisnis peternakan dan
perkembangan yang ada.
Salah satu upaya perkembangan usaha peternakan ini dapat dilakukan melalui peningkatan populasi dan produktifitas ternak.
Sementara itu, keberhasilan dan manfaat suatu program tidak hanya
dinilai dari terlaksananya program, tetapi kinerja program secara
keseluruhan, termasuk kinerja anggaran.
Dengan kata lain, suatu program dikatakan berhasil, efektif dan efisien
bila program yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan pembangunan
berpengaruh besar terhadap perbaikan perekonomian masyarakat.
Karenanya, untuk kesuksesan program itu, prinsip reformasi perencanaan
harus bisa diterapkan, yakni tepat, akuntabel dan transparan. Tepat
artinya, setiap kegiatan yang dilakukan memiliki kinerja terukur dan
runtut mulai dari indikator, program dan kegiatan yang dilakukan secara
realistis berdasarkan ketersediaan anggaran dan sumber daya manusia
(SDM).
Akuntabel dimaksudkan harus berdasarkan penjelasan dari sasaran yang
akan dicapai dan pertanggungjawabannya. Sedangkan transparan ialah
kegiatan itu dapat diikuti dan dicermati masyarakat.
Dia melanjutkan, SDM pertanian dan peternakan merupakan penggerak utama
membangun perekonomian dan kesejahteraan bangsa. Di masa kini dan
mendatang diperlukan petani dan peternak andal, yaitu yang mampu
melihat, menilai peluang bisnis dan mampu mengoptimalkan sumber daya dan
mengambil tindakan tepat untuk meningkatkan pendapatan dari usaha
agribisnisnya.
Secara operasional, agribisnis tiada lain adalah pengembangan komoditas
pertanian atau peternakan yang berorientasi pasar yang dilakukan secara
efisien dan efektif yang dalam skala ekonomi dilengkapi pengembangan
penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang sesuai
kemampuan dan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan.
Pada gilirannya, berkembangnya agribisnis akan berdampak terhadap pengembangan industri kecil dan jasa.
Tiru Aceh Timur
Program agribisnis ayam petelur di Aceh Timur bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lainnya di Aceh.
Sampai kini, kabupaten ini telah mampu menghasilkan 55 ribu butir telur
ayam per hari. Meskipun, dengan jumlah produksi itu Aceh Timur belum
mampu menutupi kebutuhan telur masyarakatnya, sebut Murthada Sulaiman
yang didampingi Sekda Aceh Timur Syaifannur SH MM dan Kadis Peternakan
dan Kesehatan Hewan Aceh Timur, Usman A Rachman .
Program agribisnis ayam petelur di Aceh Timur merupakan salah satu
program unggulan daerah ini yang berdampak positif bagi perkembangan
perunggasan khususnya ayam petelur.
Program ini telah memotivasi masyarakat untuk membuka usaha serupa
secara pribadi dan berkelompok. Jadi, Aceh Timur dinilainya sudah layak
dinobatkan sebagai sentra pengembangan agribisnis ayam petelur untuk
Aceh.
Melalui program ini, terbukanya lapangan kerja baru dan mengurangi
pengangguran, meningkatkan pendapatan dan sebagai inovasi baru yang
dapat meningkatkan kapasitas SDM peternakan di masa mendatang.
Kadis Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Timur, Usman A Rachman, kepada
Analisa mengatakan, saat ini ada lima kecamatan yang merupakan kawasan
pemberdayaan ayam petelur. Kelima kecamatan itu adalah Birem Bayeun
dengan satu lokasi, Peureulak Kota (1), Peureulak Barat (2) dan Pante
Bidari (1).
Dia mengakhiri dengan mengatakan, peternakan ayam milik Pemkab Aceh
Timur kini telah menghasilkan 84 persen produksi telur, yaitu 50-55 ribu
telur/hari.(sumber : harian analisa, 20 Desember 2011)